Rabu, 01 Juni 2016

analisis interferensi bahasa inggris dalam penggunaan bahasa jawa

BAB I
PENDAHULUAN

Bahasa yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Indonesia merupakan salah satu contoh Negara yang memiliki berbagai macam bahasa, karena Indonesia kaya akan suku bangsa. Selain kaya akan bahasa yaitu bahasa daerah, Indonesia juga menyerap bahasa asing dalam bahasa Indonesia. Karena penguasaan beberapa bahasa tersebutlah Indonesia merupakan salah satu Negara yang biligualisme. Masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa, tentu dalam percakapan sehari-hari sering terdapat interferensi.
Di era globalisasi yang beriringan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, bahasa Inggris yang merupakan bahasa Internasional banyak memberikan pengaruh ke dalam bahasa percakapan sehari-hari warga Indonesia, baik dalam penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Pengaruh bahasa lain dalam bahasa inti yang digunakan merupakan suatu kesalahan atau kekeliruan, kekeliruan inilah yang disebut dengan interferensi.
Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai interferensi bahasa Inggris dalam penggunaan bahasa Jawa yang terjadi pada percakapan keseharian warga desa Krandon. Desa Krandon terletak di kota Kudus, Jawa Tengah. Warga desa Krandon yang merupakan penduduk pulau Jawa, sudah pasti menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasinya sehari-hari. Namun karena pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang serba menggunakan bahasa Inggris, maka penggunaan bahasa Jawa tersebut lama-kelamaan menjadi terpengaruh dengan penggunaan bahasa Inggris.
Dalam proses ini bahasa yang memberi atau mempengaruhi itu disebut bahasa sumber, dan bahasa yang menerima disebut bahasa resipien, sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur serapan atau importasi. Jika dikaitkan dengan permasalahan yang dibahas, maka bahasa Inggris disebut bahasa sumber karena mempengaruhi penggunaan bahasa Jawa. Dan bahasa Jawa disebut bahasa resipien karena merupakan bahasa inti yang dipengaruhi oleh bahasa Indonesia.




BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Pengertian Interferensi
Pengertian Interferensi menurut Weinreich adalah perubahan suatu sistem bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Yang mana penutur bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian.[1]
Menurut Weinrich (1970: 64-65) ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi:
1.      Kedwibahasaan peserta tutur
2.      Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
3.      Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
4.      Menghilangnya kata-kata yang sering digunakan
5.      Kebutuhan akan sinonim
6.      Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa
7.      Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu[2]

B.     Bentuk-Bentuk Interferensi
Weinreich membagi bentuk-bentuk Interferensi menjadi empat bagian, antara lain:
1.    Interferensi dalam Bidang Fonologi
Dalam bahasa Indonesia interferensi pada sistem fonologi dilakukan misalnya, penutur bahasa Indonesia yang berasal dari Jawa selalu menambahkan bunyi dimuka kata-kata yang dimulai dengan konsonan “b,d,g dan j”, misalnya pada kata Bandung=mBandung, Depok=nDepok, Gombong=ngGombong, Jambi=nyJambi.[3]

2.    Interferensi dalam Morfologi
Terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks (imbuhan), afiks-afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain. Contoh dalam bahasa arab sufiks –wi dan –ni untuk membentuk adjektif, maka banyak penutur bahasa Indonesia itu pada kata-kata manusiawi, bahasawi, surgawi, dan gerejani. Penggunaan bentuk-bentuk kata sepeti ketabrak, kejebak, kekecilan, dan kemahalan dalam bahasa Indonesia baku juga termasuk interferensi, sebab imbuhan yang digunakan disitu berasal dari bahasa Jawa dan dialek Jakarta. Bentuk yang baku adalah tertabrak, terjebak, terlalu kecil dan terlalu mahal.[4]

3.    Inteferensi dalam Bidang Sintaksis
Struktur kalimat dalam bahasa Indonesia, “Makanan itu telah dimakan oleh saya” adalah dipengaruhi oleh bahasa Sunda, karena kalimat Sundanya adalah “Makanan teh atos dituang ku abdi”. Dalam bahasa Indonesia baku susunannya haruslah menjadi, “Makanan itu telah saya makan”. Perhatikan contoh berikut ini:
 “Mereka akan married bulan depan”.
            Contoh tersebut juga dapat dikategorikan sebagai campur kode. Perbedaannya adalah campur kode mengacu pada digunakannyaserpihan-serpihan bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa tertentu, sedangkan interferensi mengacu pada adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu bahasa dan memasukkan sistem bahasa lain, yang bagi golongan puris dianggap sebagai kesalahan.[5]

4.      Interferensi dalam Bidang Leksikal
Interferensi dalam bidang leksikal terjadi apabila seorang dwibahasawan dalam peristiwa tutur memasukkan leksikal bahasa pertama ke dalam bahasa kedua atau sebaliknya. Dalam hal interferensi leksikal terdapat lima kelas kata yaitu: [6]
a.       Kelas kata verba
BMK

BI orang Minagkabau
[Mananih]
[Menanis]
‘Menangis’
b.      Kelas kata adjektiva
BMK

BI orang Minagkabau
[Lita]
[Lita]
‘Letih’

c.       Kelas kata nomina
BMK

BI orang Minagkabau
[Terompa]
[Terompa]
‘Sandal’
d.      Kelas kata promina
BMK

BI orang Minagkabau
[Awak]
[Awak]
‘Saya’
e.       Kelas kata numeralia
BMK

BI orang Minagkabau
[Salapan]
[Salapan]
‘Delapan’

5.      Interferensi dalam Bidang Semantik
Interferensi dalam tata makna dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a.       Interferensi perluasan makna atau expansive interference, yakni peristiwa penyerapan unsur- unsur kosakata ke dalam bahasa lainnya. Misalnya konsep kata democration menjadi Demokration dan demokrasi.
b.      Interferensi penambahan makna atau additive interference, yakni penambahan kosakata baru dengan makna yang agak khusus meskipun kosakata lama masih tetap dipergunakan dan masih mempunyai makna lengkap. Misalnya kata gelandangan menjadi tunawisma dan tahanan menjadi narapidana.
c.       Interferensi penggantian makna atau replasive interference, yakni interferensi yang terjadi karena penggantian kosakata yang disebabkan adanya perubahan makna seperti kata saya yang berasal dari bahasa melayu sahaya.











BAB III
DATA DAN ANALISA

A.    Data
Percakapan berlangsung di rumah salah satu penjahit yang ada di desa Krandon antara Anggi (yang akan menjahitkan baju), Niken (teman Anggi), dan Ibu Chalimah (yang menjahit baju). Percakapan terjadi ketika Anggi dan Niken pergi kerumah Ibu Chalimah yang berada di desa Krandon untuk menjahitkan baju.
Anggi              : “Buk, badhe jahitke long dress kaleh blazer.”
Ibu Chalimah   : “Dwetmu kok gak entek-entek tuku kain terus.”
Niken                : “Geh buk, piyambake niku hobine shopping terus kok buk.”
Anggi              : “Niki mpun tak tumbaske kain kombinasi, mpun matching ra buk?”
Ibu Chalimah   : “Terus iki mbok gawe model piye?”
Anggi              : “Niki mpun gadah gambar model teng handphone.”
Ibu Chalimah   : “Modele kok angel.”
Anggi              : “Model blazer niki kan nembe dados trend buk.”

B.     Analisa
Melihat pada data yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa banyak terdapat interferensi dalam percakapan antara Anggi, Niken dan Ibu Chalimah. Bedasarkan data percakapan yang ada, banyak ditemukan interferensi bahasa Inggris ke dalam bahasa Jawa, yaitu kata long dress, blazer, shopping, matching, handphone, dan trend yang merupakan kosakata bahasa Inggris.
Kata long dress dalam bahasa Inggris berarti gaun yang panjang, yang dalam bahasa Jawa sama artinya dengan gamis. Pembicara menggunakan kata long dress  dalam percakapannya dikarenakan di zaman globalisasi seperti sekarang ini lebih sering gamis lebih sering disebut dengan istilah long dress, sehingga pembicara kesulitan untuk menemukan padanan kata long dress dalam bahasa Jawa.
Kata blazer dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan rompi. Kata shopping merupakan kata kerja bahasa Inggris yang dalam bahasa Jawa memiliki arti belanja atau tuku. Sedangkan  kata matching dalam bahasa indonesia berarti senada, yang cukup sulit untuk ditemukan padanan katanya dalam Bahasa Jawa. Kata handphone merupakan kata benda bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti telepon genggam. Dan kata trend adalah salah satu kosa kata bahasa Inggris yang telah diserap oleh bahasa Indonesia dan berintegrasi menjadi salah satu kosa kata dalam bahasa Indonesia yaitu “tren”.
Sama halnya dengan penggunaan kata long dress, penggunaan kata blazer, shopping, matching, handphone, dan trend dalam percakapan tersebuh juga dipengaruhi oleh faktor ketidak tahuan pembicara tentang padanan katanya dalam bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan lebih seringnya digunakan kosakata bahasa Inggris tersebut dibandingkan dengan menggunakan kosakata aslinya dalam kehidupan sehari-hari.
Interferensi yang terjadi dalam percakapan diatas tergolong ke dalam bentuk interferensi dalam bidang Leksikal, yaitu apabila seorang dwibahasawan dalam peristiwa tutur memasukkan leksikal bahasa pertama ke dalam bahasa kedua atau sebaliknya. Jika dikaitkan pada data percakapan diatas, maka dapat diketahui bahwa terjadi interferensi dalam bidang leksikal berupa pemasukan leksikal (kosakata) bahasa Inggris ke dalam bahasa jawa.
Interferensi dalam bidang leksikal, dapat diklasifikasikan menjadi lima kelas kata, yaitu kelas kata verba (kata kerja), kelas kata adjektiva (kata sifat), kelas kata nomina (kata benda), kelas kata pronomina (kata ganti), dan kelas kata numeralia (kata bilangan).
Dalam kaitannya dengan percakapan di atas, maka kata long dress, blazer, dan handphone dapat digolongkan ke dalam interferensi leksikal pada kelas kata nomina karena berupa kata benda. Sedangkan kata matching dan trend dapat digolongkan ke dalam interferensi leksikal pada kelas kata adjektiva karena berupa kata sifat. Dan kata shopping dapat digolongkan ke dalam interferensi leksikal pada kelas kata verba karena berupa kata kerja.












DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar sosiolinguistik, Bandung: PT Refika         Aditama,         2010.
Mahardi dan Kunjana, Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode, Yogyakarta: Pustaka   Pelajar, 2001.




[1] Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 2010. Hlm. 120.
                [2]  Mahardi, Kunjana, Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, Hlm. 164.
[3] Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Op. Cit., Hlm. 122-123.
[4] Ibid., Hlm. 123.
[5] Ibid., Hlm. 123-126.
[6]Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar sosiolinguistik, Bandung: PT Refika Aditama, 2010, Hlm. 73-74.